Thursday, December 20, 2007




PAMARDI PUTRI


Bak burung tantina
yang terpanah
raja nirwana




Pamardi Putri adalah nama sebuah Sekolah Dasar khusus putri yang berada di Baluwarti atau orang sering menyebutnya "njero mbeteng", tepatnya di sisi barat Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sekolah yang berdiri sejak tahun 1927 itu adalah milik Kraton Kasunanan, dan disitulah para putri Sinuwun, beserta sentana dalem (kerabat Sinuwun) bersekolah. Sedangkan putro-putro Sinuwun dan kerabat yang laki-laki bersekolah di Kasatriyan. Juga terletak di Baluwarti, di sebelah belakang kraton. Karena latar belakanganya itulah maka Pamardi Putri menjadi sebuah Sekolah Dasar dengan aroma ke-Jawa-an yang begitu pekat.

Ditahun 70-an murid-murid Pamardi Putri kebanyakkan adalah penduduk sekitar Baluwati, sedangkan putri-putri Sinuwun, bisa dihitung dengan jari, antara lain, Ti Taban (Koes Sabandiyah), Ti Moeng (Koes Moertiyah), Ti En (Koes Endriyah), Ti Ninil (Koes Triniyah), Ti Inul (Koes Suwiyah), Ti Is (Koes Ismaniyah), Ti Ah (Koes Samsiyah), dan yang terkecil, Gusti Koes. Panggilan Ti didepan nama adalah singkatan dari Gusti, gelar kebangsawanan mereka. Para murid dan guru, semuanya menyebut demikian. Sedangkan bagi kerabat kraton, sebutan yang lazim adalah Tri, singkatan dari Putri, misalnya Tri Ana, Tri Ombik. Dan ada lagi yaitu Jeng, misalnya Jeng Utik, Jeng Kus, sebutan penghormatan untuk yang lebih muda. Sedangkan orang-orang kebanyakan cukup dengan panggilan mbak bagi yang lebih tua, atau dik untuk yang lebih muda. Dan tentunya ada yang hanya saling menyebut nama bagi yang seumuran.
Tak ada masalah, semuanya bergaul akrab, saling hormat-menghormati. Bahkn para guru memperlakukan semua murid dengan hormat. Itulah salah satu pelajaran berharga, pelajaran yang disampaikan lewat sebuah contoh. Para guru menyebut murid-murid dengan sebutan "putro-putro", lebih halus daripada "bocah-bocah".

Pada waktu itu, hanya ada 3 laki-laki di Pamardi Putri. Pak Giek, sebagai Kepala Sekolah, Pak Hartono, guru karawitan, dan pak Jum, atau lengkapnya pak Jumali, sebagai pak bon. Pak Giek, pria yang selalu rapi berpakaian, sisiran rambutnya juga rapi, handsome, dengan kumisnya yang seperti "pager kabupaten" (he…he…nyuwun sewu pak Giek). Dan yang anak-anak paling suka adalah karena pak Giek pinter sekali menggambar. Cret-cret-cret, jadilah gambar yang yang lucu di papan tulis. Selain "tiga cowok jagoan" tersebut, selebihnya adalah ibu-ibu guru. Ada bu Tami, bu Warni, bu Niek, bu Mar, bu Pan, bu Siti (guru Agama Islam), dan bu Sus (guru tari).
Satu yang unik di Pamardi Putri adalah, setiap hari Kamis pagi, sebelum pelajaran sekolah dimulai, seluruh siswa, dari kelas 1 hingga kelas 6, wajib mengikuti senam, yang diadakan di halaman depan sekolah. Dipimpin oleh salah seorang murid kelas 6. Dan senam itu diiringi dengan irama gamelan yang ditabuh oleh murid-murid kelas 6 juga, secara bergiliran. Dengan irama gending Gugur Gunung. Itu jauh sebelum senam kesegaran jasmani yang diiringi dengan musik, ada.


Dan satu lagi keunikan, yaitu di halaman belakang sekolah, ada tempat terbuka yang cukup luas, untuk bermain, yang beratap sirap dan berlantai tegel. Anak-anak bisa bermain apa saja di situ, dari bekelan, sumbar suru, betengan, panas dingin, lumpatan, baik ketika hari sedang panas, ataupun hujan. Tempat itu disebut spelut. Entah bagaimana penulisannya yang benar, karena kata spelut itu adalah bahasa Belanda. Dan entah apa pula artinya. Selain untuk bermain, spelut digunakan sebagai tempat berlatih menari, untuk tempat pertunjukan sulap bila sekolah kami mengundang tukang sulap, tempat pentas seni bagi para sisiwi. Pernah pada suatu hari diawal aku masuk menjadi murid Pamardi Putri, diadakan tari-tarian di spelut. Para penarinya kakak-kakak kelas. Penontonnya duduk lesehan, mengelilingi spelut. Tariannya berjudul Burung Tantina, dan yang memerankan menjadi Burung Tantina adalah Ti Taban. Dengan pembawaanya yang memang halus, wajahnya yang cantik, rambutnya yang ikal, dengan baju putih yang mengembang, pemandangan yang sangatlah luar biasa. Seperti burung kecil yang indah turun dari surga. Benar-benar menghanyutkan khayalan anak-anak seusiaku pada waktu itu. Sangatlah berkesan. Hingga diusiaku kini, aku dan bahkan banyak teman-temanku, yang masih ingat, betapa mempesonnya pertunjukan tari-tarian Burung Tantina itu.

Mengingat Burung Tantina, seakan-akan kita diingatkan pula pada pohon-pohon kamboja yang berbaris rapi di depan sekolah. Juga pohon klengkeng disebelah kanan dan kiri halaman sekolah, yang hasil dari tebasan buahnya dipergunakan pak Giek untuk membeli genteng sebab atap sekolah kami yang terbuat dari sirap telah aus dimakan zaman. Begitulah, Pamardi Putri kini hanya menjadi sepotongan kenangan yang tercecer di persimpangan jalan.
Sekarang keadaannya sangat jauh berbeda. Karena tanah-tanah kosong di Pamardi Putri yang dulu ditumbuhi pepohonan kini dibangun kelas-kelas untuk SMIP Kasatriyan. Jadi selain SD, TK, ada SMIP dalam satu area.
Tidak hanya kondisi lingkungan sekolah yang berubah. Saat ini murid Pamardi Putri tinggal beberapa saja, bisa dihitung dengan jari. Sebenarnya dengan sedikitnya jumlah siswa, itu lebih menguntungkan bagi proses belajar-mengajar karena tiap-tiap murid akan mendapat perhatian lebih besar dari guru. Dan gurupun bisa lebih mendalam dalam menanamkan pengertian pada masing-masing anak. Hanya, mungkin dari segi ekonomis kurang menguntungkan, mengingat Pamardi Putri adalah sekolah partikelir, yang berada dibawah naungan Yayasan Kasatriyan. Kurang bijak kiranya, bila hanya memikirkan untung-rugi dalam pendidikan anak-anak. Siapapun dia. Mereka adalah anak-anak bangsa.


Dengan tanpa mengurangi rasa hormat pada guru-guruku, terutama bu Pan yang sekarang menjadi kepala sekolah di Pamardi Putri, juga bukan maksud hati membanding-bandingkan, melainkan karena kecintaanku pada para guru dan sekolahku dulu, dalam masalah ini kita bisa mengambil contoh pada kasus salah satu Sekolah Dasar Muhammadiyah di Belitong dengan Laskar Pelangi-nya (baca Laskar Pelangi – Andrea Hirata). Dalam kondisi yang serba minim, baik guru, murid, maupun sekolahanya, namun tetap semangat dan nyatanya mampu melahirkan manusia-manusia yang berkwalitas tinggi. Atau kita bisa mencontoh sebuah sekolah dasar yang unik, yang ada di Jepang sekitar tahun 30-an, dengan kepala sekolahnya yang begitu arif, kreatif dan punya daya tarik (baca Toto Chan). Sehingga lahirlah anak-anak yang merdeka pikirannya dan cerdas dalam hidup.

Dengan kedua contoh tersebut diatas, kiranya masih terbuka peluang untuk turut menciptakan anak-anak yang berkwalitas dan mempunyai nilai lebih. Masih terasa denyut nadinya, walau tak terdengar suaranya. Itu artinya masih ada harapan. Ada sekolahnya, ada muridnya, dan ada gurunya. Ada wadahnya, ada isi yang akan diolah, dan tinggal bagaimana mengolahnya. Disini peran Bapak/Ibu guru benar-benar ditantang. Dengan kondisi apa adanya sekarang, mampukah memberikan hasil yang cemerlang ? Bukan berapa jumlahnya namun tingkat mutunya. Aku yakin Pamardi Putri mampu untuk itu. Asal masih ada kemauan dan semangat. Semangat mengantarkan anak-anak menapaki kehidupan yang lebih bermakna. Dengan keadaan apa adanya, tanpa mengada-ada, kita mulai dari yang telah ada.

Hormat dan terimakasih untuk guru-guruku
Salam buat teman-teman sekelasku dulu
Dan tak lupa salam untuk pak Jumali dari Citraksi

1 comment:

umi said...

saya juga kangen dengan SD saya ini..sayang sekarang dikelilingi hutan gedung. walo saya masih bisa bernostalgia dengan bu warni/pak jum/bu tami, karena saya tinggal di mangkuyudan. pak Giek sudah lama meninggal ..