Thursday, December 20, 2007

Oleh-oleh dari kantor
(untuk keponakan)

Pada waktu itu, ada program dari Pemerintah,
berupa bantuan dana untuk koperasi dan golongan ekonomi lemah,
yang diberikan berupa kredit melalui Bank.
Sehingga pada waktu realisasi, kantor kami (sebuah kantor Notaris) menjadi sibuk sekali, melayani para nasabah Bank yang hendak tanda-tangan. Mereka kebanyakan para pedangan kecil dan petani yang sudah tua-tua.
Bahkan ada yang hanya bisa dan mengerti bahasa Jawa saja.
Jadinya agar dimengerti kamipun melayani dengan bahasa Jawa pula.
"Bapak asmanipun sinten pak ?"
Dan sambil mengeluarkan KTP Bapak itupun menjawab : " Kula nami MARIKUN"
Setelah saya lihat KTP dan data-data yang ada di berkas,
ternyata semuanya cocok.
Kemudian saya tanya : " Bapak badhe tapak asmo, menapa cap jempol pak ?"
Dijawab : "Kulo tapak asmo mawon" .
Lalu saya sodorkan lembar-lembar yang harus ditanda-tangani
dihadapan pak Marikun.
Dan reg-ereg-ereg, pak Marikunpun tanda-tangan di atas materai.
Namun saya masih harus mengingatkan,
karena di bawah tanda-tangan belum ditulis nama terangnya :
"Nyuwun sewu pak, asmo terang dipun serat" ,
sambil saya tunjukkan tempat dimana nama terang harus ditulis.
Dengan pelan-pelan dan hati-hati,
satu-satu huruf ditorehkan diatas kertas.
Saya agak terkejut, dan dengan hati-hati pula terpaksa bertanya : "Pak,asmanipun……….".
Dan dengan tekanan suara yang agak keras Bapak itu menjawab :
"Kula Marikun.Niki kulo nembe nulis nami kula, Marikun !
Dengan kesabaran yang agak dipaksakan, sayapun terpaksa menyela :
" Lho pak, meniko seratanipun kok M A K U R I N ? ".
Saya malah dibentak : "Kula Marikun bu. Marikun"
Yo wis monggo kerso pak.
Yang penting angsurannya lancar.

1 comment:

Nic-Nic said...

ha..ha..ha....
sabar...sing waras ngalah...eit...ora ding sing enom ngalah ya BU.....