Meja Makan
Tanpa kita sadari, dengan mengatas namakan kehidupan modern,
kesibukan, kepraktisan, kemandirian, kita telah kehilangan banyak hal,
nilai-nilai positif, yang dulu dengan susah payah ditanamkan
Tak dapat disangkal, memang saat ini atau zaman sekarang,
dari anak-anak hingga orang-orang dewasa, mempunyai kegiatan dan kesibukan yang lebih dibanding pada masa lalu. Dua atau tiga dasawarsa kebelakang.
Sehingga waktu untuk bersama-sama, berkumpul, sekedar nge-teh ,
atau menanyakan keadaan sekolah hari ini, sudah sulit didapat.
Apalagi duduk, makan bersama dalam satu meja makan, tiga kali dalam sehari. Hampir mustahil.
Tapi mengingat betapa pentingnya, kita dalam satu keluarga, saling memberi, saling menerima, saling melayani, saling menghormati, dan "saling yang positif" lainnya. Maka perlulah kiranya, mengadakan waktu walau hanya satu kali saja dalam sehari, untuk makan bersama dalam satu meja makan, bersama keluarga.
Karena banyak pelajaran berharga yang dapat kita peroleh di meja makan.
Anak-anak dapat sekaligus kita perkenalkan pada etika makan.
Orang tua dapat mengekspresikan kasih sayangnya pada anak-anak
dengan melayani mereka makan. Anak-anak akan merasa lebih diperhatikan, disayang dan dihargai, sehingga mereka tumbuh menjadi anak dengan kepribadian yang hangat, mampu menyayangi dan menghargai orang lain.
Suami isteri juga saling melayani. Atau hanya sekedar menawarkan makanan, itu sudah merupakan wujud kepedulian pada pasangan. Saling berbagi cerita diantara anggota keluarga. Atau secara demokratis, kita rencanakan menu untuk esok hari. Atau ada hal-hal yang perlu dimusyawarahkan. Dengan demikian anak bisa belajar untuk menerima dan mempertimbangkan pendapat orang lain.
Kebersamaan membuat kita merasa lebih kuat.
Kita tak takut jatuh, karena kita punya sandaran.
Keadaan yang bertolak belakang seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dengan alasan kesibukan, sehingga tak bisa berkumpul dalam waktu yang sama. Atau dengan alasan, anak-anak dan suami harus mandiri, maka mereka harus bisa mengambil makan sendiri. Didapur. Bahkan sayurpun masih di dalam panci di atas kompor. Praktis. Tidak banyak perabot yang kotor. Rasa-rasanya lebih terhormat makan di warung, daripada makan di rumah sendiri. Sedangkan meja makan dengan taplak bersulam mahal, dengan vas bunga diatasnya, nampak bersih dan rapi, tak tersentuh. Sekaligus tak berfungsi. Hanya sebatas pajangan. Anak-anak makan terserah dimana mereka suka. Biasanya di depan TV.
Kini, sudah saatnya kita kembalikan fungsi meja makan,
seperti tujuan awalnya. Sebagai tempat makan bersama dalam suatu keluarga.
Oleh sebab itu, meja makan selalu dilengkapi banyak kursi, bisa empat, enam, atau delapan. Dengan harapan semua anggota keluarga bisa mendapat tempat.
Bersama-sama kita ajarkan pada anak-anak untuk menghargai makanan dan mensyukuri nikmat yang diberikan Allah hari ini, lewat makan bersama keluarga dalam satu meja makan, walau hanya sekali dalam satu hari.
No comments:
Post a Comment