Cangkokan mBaluwarti
Sebuah ceritera yang pernah sekian lama tersimpan di bawah kasur.
Anak-anak sering kali mempunyai tempat rahasia, dimana semua barang kesayangannya dapat disimpan tanpa ada yang bisa menggangu gugat. Bajupun harus punya saku, sehingga apapun dapat masuk disitu. Dari premen, kacang, uang, kelereng, gambar, atau kadang-kadang bahkan saku menjadi tempat sampah rahasia, kalau-kalau ada sayuran yang tak disuka. Tak hanya barang, kadang ada peristiwa yang harus pula disembunyikan. Yang tak mengenakkan hati, yang memalukan, harus disimpan rapat-rapat. Karena ingatan atau kenangan tak bisa dibuang begitu saja, seperti kita membuang sampah.
Dulu, dulu sekali, ketika aku dan kakak perempuanku (mbak Arum) masih SD Entah karena apa, mbak Arum terluka kakinya, tepat diatas mata kaki. Sehingga, setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan sore hari sehabis mandi selalu diadakan ritual pembersihan koreng oleh Bapak. Sebaskom air hangat, kapas, perban, salep, plester itulah sesaji yang musti dipersiapkan. Adalagi, dingklik kecil, sebagai singgasana untuk mbak Arum. Pada saat itulah koreng dibersihkan dan diperban, disetai acara nangis-nangis segala. Entahlah, membersihkan koreng sepertinya hobi buat Bapak. Karena setiap kali mbak Arum punya luka, Bapak selalu telaten merawatnya. Dan itu sering sekali terjadi, karena mbak Arum termasuk tipe anak yang "kokeyan polah" .
Seperti pagi itu, setelah semuanya beres, kita berangkat ke sekolah bersama. Berdua saja, berjalan kaki. Karena sekolah kami tak jauh dari rumah. SD Pamardi Putri, yang terletak di Baluwarti. Satu hal yang kurang menyenangkan setiap kali pergi ke sekolah, adalah kita mesti lewat depan SD Kasatriyan. Sebuah Sekolah Dasar khusus putra dimana putro-putro Sinuwun bersekolah. Biasanya, anak-anak Kasatriyan nongkrong di depan pintu gerbang, sebelum bel masuk berbunyi. Ada Gusti Suryo siapa, Suryo siapa, Suryo siapa lagi, aku tak tahu. Ditambah putro-putro Pak Panji Naryo (Mloyo Kusuman). Itu semua koboi-koboi Kasatriyan.
Pada awalnya, kami berjalan biasa saja, sebelum sebuah teriakan keras salah satu dari mereka : " Heeeeiiii . . . . . . . cangkokan mBaluwartiiii ! "
Dan : " Geeerrrrr " , disambut tawa keras dari anak-anak Kasatriyan yang lain.
Tentunya, kami berdua, "mak glodhak" bagai terjengkang dari kursi goyang. Aku langsung ingat pada kaki mbak Arum yang diperban, memutar pergelangan kaki, persis seperti dahan pohoh jambu yang sedang dicangkok. Pantas mereka menyebutnya "cangkokan mBaluwarti". Dan langkahpun dipercepat, agar kami dapat
Pada awalnya, kami berjalan biasa saja, sebelum sebuah teriakan keras salah satu dari mereka : " Heeeeiiii . . . . . . . cangkokan mBaluwartiiii ! "
Dan : " Geeerrrrr " , disambut tawa keras dari anak-anak Kasatriyan yang lain.
Tentunya, kami berdua, "mak glodhak" bagai terjengkang dari kursi goyang. Aku langsung ingat pada kaki mbak Arum yang diperban, memutar pergelangan kaki, persis seperti dahan pohoh jambu yang sedang dicangkok. Pantas mereka menyebutnya "cangkokan mBaluwarti". Dan langkahpun dipercepat, agar kami dapat
secepat mungkin menghilang dari pandangan mereka. Muuuaalu sekali.
Cerita itu cukup lama tersimpan di bawah kasur, tempat yang kuanggap paling aman untuk menyimpan rahasiaku. Hingga beberapa lama.
Nah buat bapak-bapak yang punya gadis kecil, apapun itu, buat anak gadis, segalanya harus kelihatan cantik. Meskipun itu sebuah koreng. Bisa diperban dan diplester dengan plester yang berwarna-warni, atau plester yang bergambar kartun lucu-lucu. Agar anak bapak tidak mendapat malu. OK ?!
Nah buat bapak-bapak yang punya gadis kecil, apapun itu, buat anak gadis, segalanya harus kelihatan cantik. Meskipun itu sebuah koreng. Bisa diperban dan diplester dengan plester yang berwarna-warni, atau plester yang bergambar kartun lucu-lucu. Agar anak bapak tidak mendapat malu. OK ?!
No comments:
Post a Comment