"Alhamdulillah"
Ada kata-kata yang sangat klise, yang sejak kanak-kanak, remaja, hingga tumbuh dewasa, selalu kita dengar dan kita yakini kebenarannya hingga kini. Bahwa tak ada orang tua yang menjerumuskan anak sendiri. Ya tentu saja. Anak adalah permata hati. Meskipun sekarang ada orang tua yang tega membakar anak kandung sendiri. Nah kalau itu termasuk penyimpangan, hal yang diluar kebiasaan. Bukan hal yang umum. Namun bukan berarti bahwa hal-hal yang tak umum itu jelek atau salah. Kadang kita perlu juga merenungkan hal-hal yang tak umum itu, dengan maksud, siapa tahu diantaranya terselip suatu kebenaran. Meskipun itu dianggap tak umum. Suatu kebiasaan yang tak kita sadari, seringkali kita lebih memilih yang "umum meskipun salah", dari pada memilih "benar tetapi itu tak umum". Kalau orang Jawa bilang : "salah kaprah, sing bener malah ora lumrah".
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali kejadian yang demikian itu, dan kita lakukan, kita jalani, tanpa pikir, tanpa kita rasakan, dan malah kita nikmati. Dari hal-hal kecil, dan merembet ke hal yang lebih besar tentunya.
Bila kita makan, merasakan enak, kita berucap alhamdulillah. Tanggal satu terima amplop gaji, alhamdulillah. Dapat arisan, alhamdulillah. Jabatan naik, alhamdulillah. Segala hal yang berhubungan dengan perolehan kenikmatan, kita selalu tak lupa bersyukur. Sampai-sampai amplop sogokan pun kita syukuri. Mungkin karena, itu suatu kenikmatan juga. Tapi mengapa setiap kali kita kentut, kencing, berak, kita tak pernah berucap syukur. Padahal itu juga merupakan suatu kenikmatan. Malah-malah itu merupakan bagian dari kesehatan. Bisa dibayangkan, bagaimana kalau kita tak bisa berak atau kencing seminggu lamanya. Apa yang akan terjadi. Ya "sare di Kustati" . Bagaimana kalau rasanya mau kentut, tapi tak bisa keluar ?. Mulesnya setengah mati. Padahal setiap kali kentut, kita tak pernah berucap alhamdulillah. Malang sekali nasib si kentut. Berbagai bentuk pelepasan seringkali lupa kita syukuri.
Padahal itu berkaitan erat dengan kesehatan.
Segala sesuatu yang memang seharusnya dilepas, misalnya sodakoh, zakat, hendaknya kita lepas dengan disertai puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena itu menyehatkan. Allah masih berkenan memberi kesehatan kepada kita. Kesehatan disini bisa berarti kesehatan fisik, kesehatan mental, atau kesehatan spiritual. Dan bila kita memperoleh kenikmatan, marilah kita merenung, benarkah ini kenikmatan yang sesungguhnya, kenikmatan yang diridhoi Allah, yang wajib kita syukuri, ataukah ini merupakan kenikmatan semu yang menyesatkan.
Segala sesuatu yang memang seharusnya dilepas, misalnya sodakoh, zakat, hendaknya kita lepas dengan disertai puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena itu menyehatkan. Allah masih berkenan memberi kesehatan kepada kita. Kesehatan disini bisa berarti kesehatan fisik, kesehatan mental, atau kesehatan spiritual. Dan bila kita memperoleh kenikmatan, marilah kita merenung, benarkah ini kenikmatan yang sesungguhnya, kenikmatan yang diridhoi Allah, yang wajib kita syukuri, ataukah ini merupakan kenikmatan semu yang menyesatkan.
Tolong temani saya merenung.
---------- oOo ----------
---------- oOo ----------
No comments:
Post a Comment