Thursday, December 20, 2007

"Alhamdulillah"

Ada kata-kata yang sangat klise, yang sejak kanak-kanak, remaja, hingga tumbuh dewasa, selalu kita dengar dan kita yakini kebenarannya hingga kini. Bahwa tak ada orang tua yang menjerumuskan anak sendiri. Ya tentu saja. Anak adalah permata hati. Meskipun sekarang ada orang tua yang tega membakar anak kandung sendiri. Nah kalau itu termasuk penyimpangan, hal yang diluar kebiasaan. Bukan hal yang umum. Namun bukan berarti bahwa hal-hal yang tak umum itu jelek atau salah. Kadang kita perlu juga merenungkan hal-hal yang tak umum itu, dengan maksud, siapa tahu diantaranya terselip suatu kebenaran. Meskipun itu dianggap tak umum. Suatu kebiasaan yang tak kita sadari, seringkali kita lebih memilih yang "umum meskipun salah", dari pada memilih "benar tetapi itu tak umum". Kalau orang Jawa bilang : "salah kaprah, sing bener malah ora lumrah".

B A R G I


Bargi bertanya :
Mengapa patung Slamet Riyadi yang di Gladak,
hadapnya ke Barat ?.
Itu kan nggak nyeni,
bagusan menghadap ke arah Kraton.
Hadap Selatan.


Riham
nggak bisa jawab.
Akhirnya dijawab sendiri sama Bargi :
Kalau dihadapkan ke Selatan,
nanti malah "jagongan" sama reco Gladag.
Oleh-oleh dari kantor
(untuk keponakan)

Pada waktu itu, ada program dari Pemerintah,
berupa bantuan dana untuk koperasi dan golongan ekonomi lemah,
yang diberikan berupa kredit melalui Bank.
Sehingga pada waktu realisasi, kantor kami (sebuah kantor Notaris) menjadi sibuk sekali, melayani para nasabah Bank yang hendak tanda-tangan. Mereka kebanyakan para pedangan kecil dan petani yang sudah tua-tua.
Bahkan ada yang hanya bisa dan mengerti bahasa Jawa saja.
Jadinya agar dimengerti kamipun melayani dengan bahasa Jawa pula.
"Bapak asmanipun sinten pak ?"
Dan sambil mengeluarkan KTP Bapak itupun menjawab : " Kula nami MARIKUN"
Setelah saya lihat KTP dan data-data yang ada di berkas,
ternyata semuanya cocok.
Kemudian saya tanya : " Bapak badhe tapak asmo, menapa cap jempol pak ?"
Dijawab : "Kulo tapak asmo mawon" .
Lalu saya sodorkan lembar-lembar yang harus ditanda-tangani
dihadapan pak Marikun.
Dan reg-ereg-ereg, pak Marikunpun tanda-tangan di atas materai.
Namun saya masih harus mengingatkan,
karena di bawah tanda-tangan belum ditulis nama terangnya :
"Nyuwun sewu pak, asmo terang dipun serat" ,
sambil saya tunjukkan tempat dimana nama terang harus ditulis.
Dengan pelan-pelan dan hati-hati,
satu-satu huruf ditorehkan diatas kertas.
Saya agak terkejut, dan dengan hati-hati pula terpaksa bertanya : "Pak,asmanipun……….".
Dan dengan tekanan suara yang agak keras Bapak itu menjawab :
"Kula Marikun.Niki kulo nembe nulis nami kula, Marikun !
Dengan kesabaran yang agak dipaksakan, sayapun terpaksa menyela :
" Lho pak, meniko seratanipun kok M A K U R I N ? ".
Saya malah dibentak : "Kula Marikun bu. Marikun"
Yo wis monggo kerso pak.
Yang penting angsurannya lancar.
Kata Riham :
Mengapa Superman pakai celana dalamnya
di luar, bukan didalam ?
Karena ada keadaan darurat
dan Superman harus cepet-cepet memberikan pertolongan.
Pakai baju seragamnya buru-buru,
sampai lupa pakai celana dalam.
Ya wis, daripada nggak pakai celana dalam,
ya dipakai wae, diluar.
Gituuu.
Meja Makan

Tanpa kita sadari, dengan mengatas namakan kehidupan modern,
kesibukan, kepraktisan, kemandirian, kita telah kehilangan banyak hal,
nilai-nilai positif, yang dulu dengan susah payah ditanamkan
oleh para orang tua kita.

Cangkokan mBaluwarti

Cangkokan mBaluwarti

Sebuah ceritera yang pernah sekian lama tersimpan di bawah kasur.


Anak-anak sering kali mempunyai tempat rahasia, dimana semua barang kesayangannya dapat disimpan tanpa ada yang bisa menggangu gugat. Bajupun harus punya saku, sehingga apapun dapat masuk disitu. Dari premen, kacang, uang, kelereng, gambar, atau kadang-kadang bahkan saku menjadi tempat sampah rahasia, kalau-kalau ada sayuran yang tak disuka. Tak hanya barang, kadang ada peristiwa yang harus pula disembunyikan. Yang tak mengenakkan hati, yang memalukan, harus disimpan rapat-rapat.



PAMARDI PUTRI


Bak burung tantina
yang terpanah
raja nirwana




Pamardi Putri adalah nama sebuah Sekolah Dasar khusus putri yang berada di Baluwarti atau orang sering menyebutnya "njero mbeteng", tepatnya di sisi barat Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sekolah yang berdiri sejak tahun 1927 itu adalah milik Kraton Kasunanan, dan disitulah para putri Sinuwun, beserta sentana dalem (kerabat Sinuwun) bersekolah. Sedangkan putro-putro Sinuwun dan kerabat yang laki-laki bersekolah di Kasatriyan.