Monday, December 3, 2007

"Tomato Soup"


Suatu kebiasaan kurang bagus pada kebanyakan anak-anak adalah memilih-milih makanan. Biasanya mereka memilih makanan atas dasar suka dan tidak suka. Dan tak ada alasan tentang itu. Suatu hal yang wajar bagi anak-anak. Tapi membiarkan meraka dalam keadaan demikian tidaklah wajar bagi para orang tua. Pengetahuan tentang makanan dan gizi amatlah penting bagi para ibu. Syukur syukur bapaknya juga, sehingga bisa memberi masukan buat sang isteri. Ada benarnya juga salah satu iklan di TV, yang menayangkan seorang anak yang kemudian mau menyantap hidangan sang ibu, ketika hidangan tersebut telah berubah wujud menjadi wajah boneka yang terseyum lucu. Penampilan ! Penampilan makanan dapat merubah selera makan bagi anak-anak terutama yang bermasalah dalam hal makan. Tidak sedikit ibu-ibu yang puyeng, memikirkan menu hari ini, karena hidangan kemarin tak tersentuh sama sekali.

Ini ada sebuah contoh cerita masa lalu, yang layak kita simak dan kita renungkan. Terutama buat ibu-ibu, atau calon ibu.
Nenek saya, mbah putri Djarwati, seorang wanita Jawa kelahiran tahun 1910. Wanita kuno tentunya, ketika anda melihat jejeran angka-angka tahunnya. Memang ! Dengan berbekal pengetahuan membaca dan menulis yang diperolehnya dari Home Schooling model dulu, beliu selalu mengembangkan diri, belajar, dan membaca apa saja setiap hari. Sehingga beliu menjadi tanggap terhadap situasi yang sedang dihadapi. Termasuk menghadapi saya, anak yang sangat sulit makan. Tak mau sayuran, tak mau tahu tempe. Tak suka kuah. Satu-satunya sayur yang saya mau adalah sayur sup. Karena penampilannya bersih, dan warna-warni. Selain rasanya yang ringan dan enak. Sehingga Mbah Putri mempunyai daftar sayur sup yang cukup panjang . Ada sup sayuran, sup ayam, sup macaroni, sup kacang hijau, sup manten dan sup kacang merah. Dari sebegitu banyak sup, tomat adalah unsur yang terdahulu disingkirkan. Apapun itu supnya, tomat tak bakal termakan. Dan Mbah Putripun akan berkata, bahwa tomat itu banyak mengandung vitamin ini dan itu, baik untuk ini dan itu, dan seterusnya. Tapi tetap saja. Aku tak selera makan tomat. Dan selera tak dapat dipertentangkan. Tapi tak sampai disitu saja, perjuangan Mbah Putri. Perjuangan tanpa paksaan.
Suatu hari, tambah satu perbendaharaan sup Mbah Putri. Resep citaannya sendiri. Dengan kuah berwarna merah segar dan isiannya yang yang berwana putih, kontras. Cantik, sederhana, tapi sekaligus tampak mewah. Belum mencicipi, tapi satu kesan positip telah tertangkap. Apa ini, pikirku. Cicipilah, itu sup tomat, enak, segar, dan sehat, kata Mbah Putri. Tak nampak ada maksud propaganda, tak ada paksaan, tak ada tipuan. Dan betul, aku langsung menyukainya. Ueenak banget.
Untuk selanjutnya, demi mencukupi asupan tomat bagi anak-anak Mbah Putri sering memasak sup tomat. Sup yang dimasak dari tomat segar yang diambil sarinya, dan diberi isian telur yang dicampur mentega dan terigu. Sebagai hidangan pembuka sebelum makan. Atau sekedar untuk makanan tambahan.

Karena aku sangat menyukainya, maka aku ingin bisa membuatnya sendiri. Karena saat itu aku masih kecil, Mbah Putri selalu bilang, ayo, "sinau nganggo mata", yang maksudnya adalah belajar hanya dengan melihat. Tidak perlu dengan praktek.
Dan kini, aku sudah dapat membuatnya, untuk keponakan-keponakan di rumah, untuk sahabat-sahabatku, atau kadang untuk teman-teman di kantor. Semua menyukainya. Tentu saja karena dimasak dengan cinta.

No comments: