Monday, December 3, 2007


"Apa kabar Semanggi"

Disebuah perkampungan yang terletak di sisi timur kota Sala, yaitu kampung Semanggi, bahasa sandi, seperti yang telah diuraikan diatas, yaitu bahasa sandi dengan cara dibalik sangatlah populer. Sebagian besar anak mudanya mengenal dan mempergunakan bahasa itu sebagai bahasa gaul dikalangan mereka. Sehingga orang-orang mengenal bahasa sandi dengan cara dibalik tersebut sebagai bahasa Semanggi.

Di sekitar tahun tujuhpuluhan bahasa tersebut bahkan tidak hanya dipergunakan di dalam kampung Semanggi saja. Anak - anak muda Semanggi begitu bangga dengan bahasa sandi tersebut, sehingga mereka tidak segan-segan menggunakannya dimanapun mereka berada, misalnya : di tempat kerja, di pasar, di rumah makan, dll dengan sesama teman yang menguasai bahasa tersebut. Mereka menganggap bahwa itu adalah bahasa gaul anak muda pada masa itu di kampungnya.

Dengan disalinnya buku "Wicara Sandi" tersebut di atas dari huruf/ tulisan Jawa menjadi huruf/tulisan Latin, meskipun dengan bahasa yang sama, namun dapat mempermudah kita untuk membaca tulisannya. Dan membuka mata kita bahwa bahasa sandi tersebut di atas sebenarnya adalah bahasa yang telah diciptakan nenek moyang kita kurang lebih satu abad yang lalu. Karena diterangkan dalam buku tersebut bahwa pada tahun 1931 (pada saat buku itu diterbitkan) bahasa itu telah dipergunakan sekitar duapuluh tahunan. Boleh dikatakan bahwa bahasa itu ada sekitar awal abad XIX.

Hingga saat ini bahasa sandi tersebut masih dimengerti dan kadang-kadang masih dipergunakan tetapi hanya oleh sebagian kecil orang-orang Semanggi. Bagi yang mengerti, bahasa sandi tersebut sekarang dipakai sebagai sarana untuk komunikasi rahasia, apabila si pembicara tidak menghendaki orang lain mengetahui pembicaraannya.
Sebagai contoh percakapan yang menggunakan bahasa sandi dengan cara dibalik seperti yang umum dipergunakan oleh orang-orang Semanggi :

Mardi : mas goleki bojomu.
(kas ropeki cosoku)

Parno : ngapa jarene ?
(hala sagethe ?)

Mardi : boh, nangis-nangis nggoleki kowe.
(coh, thahis-thahis ngropeki modhe).

Parno : kon mulih dhisik.
(mon kupih wijik)

Mardi : ra gelem.
(ga repem)
butuh dhuwit yake.
(cuyuh wudhit take)

Parno : ora duwe dhuwit.
(ngoga nyudhe wudhit)

Mardi : ya maina dhadhu terus wae
(ta kaitha wawu yegus dhae)

Parno : gundhulmu le-le
(runwulku pe-pe)

Dengan bahasa sandi tersebut diatas sebenarnya menjadikan Semanggi sebagai perkampungan yang unik. Lain dari yang lain. Namun keunikan itu kini nyaris lenyap. Setelah 100 tahun keberadaannya. Bagaimana Semanggi ? Masih punya semangat untuk mepertahankan ? Selagi masih ada bapak-bapak kita yang masih menguasainya. Selain itu, dengan mempelajari bahasa tersebut, berarti kita turut "nguri-uri basa Jawi". Karena dasar dari bahasa sandi tersebut adalah bahasa dan aksara Jawa. Tanpa menguasai bahasa dan aksara Jawa, kita tidak akan dapat mempelajari bahasa sandi tersebut, atau yang kadang disebut sebagai bahasa Semanggi.

Sebenarnya belum terlambat bila kita masih ingin menghidupkan dan mempertahankannya. Misalnya sebagai contoh yang sederhana saja : diadakan lomba menterjemahkan, lomba mengarang lomba pidato, yang semuanya itu menggunakan bahasa sandi/ bahasa Semanggi, di saat peringatan Hari Kemerdekaan RI.. Itu artinya, masih bisa dipertahankan. Lalu dipupuk agar tumbuh dan berkembang lagi.

Satu hal yang perlu digaris-bawahi adalah, dengan menghidupkan kembali bahasa Semanggi, itu artinya meletakkan bahasa tersebut kedalam kedudukan yang terhormat. Karena dikawatirkan, bila semakin sedikit orang yang mengerti atau bahkan tidak dimengerti sama sekali, maka bahasa sandi tersebut akan dipelajari oleh golongan tertentu saja dan kemudian benar-benar menjadi "bahasa sandi" atau "bahasa rahasia" bagi golongan tertentu tersebut, misalnya : pencopet, maling, atau penipu, yang semuanya itu menjadikan bahasa sandi sebagai alat kejahatan. Dan itu tentunya sangat jauh dari tujuan awal penciptaannya, seabad yang lalu.

Simbah yasa, wayah kang ngreksa.

Salamku buat priyayi Semanggi semuanya.
Terlebih untuk mas Gimin, mas Marsa dan masa Bina.

-----OOO-----


Buat shohibku Totok,
makasih banget atas budi baiknya.
Lemah teles yo Tok
Gusti Allah sing mbales.
Amin.


Buat keponakanku Dwi Tungga Ariati,
atas teh manisnya tiap pagi
terimakasih sekali.


Dan buat keponakanku Setyo Hapsari
makasih juga, telah membuat suasana rumah
begitu gegap gmpita


Buat Bargi Ahmad Sanad
Sukron, ……atas foto-fotonya.
Mbak Ita tahu, kau tak butuh penghargaan
cuma butuh pujian kan ?
"Gie kau memang ganteng dan baik hati"






No comments: