edit.jpg)
"Cangkir"
Dalam kehidupan sesorang, kadang-kadang ditemukan sesuatu yang begitu melekat erat dalam diri orang tersebut. Sesuatu itu bisa saja berupa kebiasaan, barang, gaya, kesukaan, atau apapun itu, yang akhirnya akan membedakan seseorang dengan yang lain. Perbedaan-perbedaan itulah yang akhirnya akan membuat model-model orang. Dan orang dengan model-modelnya itulah yang akan membuat kita selalu teringat.
Seperti halnya dalam kehidupan Bapakku. Sepanjang ingatanku, sepanjang hidupnya yang 68 tahun, Bapak hampir tidak pernah mengganti cangkir tehnya dengan cangkir yang lain. Mengapa hampir ? Karena kami anak-anaknya pernah beberapa kali membelikan cangkir baru, karena yang lama sudah amat tua. Tutup dan lepekannya sudah pecah, dan telah diganti seribu kali. Bibirnya sudah cuwil, kupingannya sudah benthet (retak). Kalaupun dijual di klithikan pasti tak akan ada yang mau membeli. Mbok-mbok gendol kopi nggak bakalan mau nyangking walau hanya dikasih. Meskipun sudah diganti dengan cangkir baru, Bapak selalu punya alasan untuk kembali memakai cangkir lama. Barang yang sangat bersejarah. Cangkir baru hanya berumur seminggu.
Ketika kami masih kecil-kecil, pelajaran sopan-santun yang pertama kita terima, salah satunya adalah tidak boleh nyerobot minuman Bapak. Masing-masing punya cangkir sendiri-sendiri. Kami hanya boleh minum teh Bapak, kalau sore hari, pada saat cangkir itu aka dicuci dan diganti dengan teh yang baru, dan tentunya kalau Bapak sudah tidak menghendaki. Kami selalu berebut lorotan teh itu. Tapi adakalanya, bila sedang rukun, kami mau-mau saja untuk berbagi. Masing-masing "sak sruputan". Entah mengapa kami selalu menganggap, tehnya Bapak adalah minuman yang paling nikmat. Tapi adakalanya Bapak menyodorkan cangkir tehnya dengan suka rela, kepada kami, dikala kami sakit. Untuk obat biar cepet sembuh. Atau ketika nangis-nangis karena sesuatu sebab. Atau juga ketika wajah kami "njabrut" karena jengkel. Bahkan dengan cucu-cucunyapun kebiasan itu masih berlaku.
Kenangan atas bapak tercinta.
Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku,
dan kasihilah duanya,
sebagai mana mereka mengasihiku diwaktu aku masih kecil.
Dalam kehidupan sesorang, kadang-kadang ditemukan sesuatu yang begitu melekat erat dalam diri orang tersebut. Sesuatu itu bisa saja berupa kebiasaan, barang, gaya, kesukaan, atau apapun itu, yang akhirnya akan membedakan seseorang dengan yang lain. Perbedaan-perbedaan itulah yang akhirnya akan membuat model-model orang. Dan orang dengan model-modelnya itulah yang akan membuat kita selalu teringat.
Seperti halnya dalam kehidupan Bapakku. Sepanjang ingatanku, sepanjang hidupnya yang 68 tahun, Bapak hampir tidak pernah mengganti cangkir tehnya dengan cangkir yang lain. Mengapa hampir ? Karena kami anak-anaknya pernah beberapa kali membelikan cangkir baru, karena yang lama sudah amat tua. Tutup dan lepekannya sudah pecah, dan telah diganti seribu kali. Bibirnya sudah cuwil, kupingannya sudah benthet (retak). Kalaupun dijual di klithikan pasti tak akan ada yang mau membeli. Mbok-mbok gendol kopi nggak bakalan mau nyangking walau hanya dikasih. Meskipun sudah diganti dengan cangkir baru, Bapak selalu punya alasan untuk kembali memakai cangkir lama. Barang yang sangat bersejarah. Cangkir baru hanya berumur seminggu.
Ketika kami masih kecil-kecil, pelajaran sopan-santun yang pertama kita terima, salah satunya adalah tidak boleh nyerobot minuman Bapak. Masing-masing punya cangkir sendiri-sendiri. Kami hanya boleh minum teh Bapak, kalau sore hari, pada saat cangkir itu aka dicuci dan diganti dengan teh yang baru, dan tentunya kalau Bapak sudah tidak menghendaki. Kami selalu berebut lorotan teh itu. Tapi adakalanya, bila sedang rukun, kami mau-mau saja untuk berbagi. Masing-masing "sak sruputan". Entah mengapa kami selalu menganggap, tehnya Bapak adalah minuman yang paling nikmat. Tapi adakalanya Bapak menyodorkan cangkir tehnya dengan suka rela, kepada kami, dikala kami sakit. Untuk obat biar cepet sembuh. Atau ketika nangis-nangis karena sesuatu sebab. Atau juga ketika wajah kami "njabrut" karena jengkel. Bahkan dengan cucu-cucunyapun kebiasan itu masih berlaku.
Dan kini, ketika cangkir itu ditinggal tuannya, aku paling napsu untuk memiliknya. Rasa-rasanya tak ada barang yang begitu berharga bagiku, selain cangkir teh tua itu. Kebiasaanku menyebutnya sebagai "cangkir sepanjang hidup". Seperti sejarahnya . Disaat sedang sakit, sedih, atau lelah, baik jiwa maupun raga, itulah saatnya perlu duduk tenang, mendekap cangkir itu dengan kedua telapak tangan, hingga tangan merasa hangat dan rileks, mencium uap wangi dari aroma teh yang khas, dan minum dengan tumakninah, secangkir teh manis yang hangat dari "cangkir sepanjang hidup" warisan Bapak. Rasa-rasanya, tidak hanya tubuh yang merasakan, jiwapun terasa tersiram, dan hangat. Hiduppun menjadi lebih hidup. Dan tak dapat dipungkiri lagi cangkir benar-benar "nyancang pikir" .
Kenangan atas bapak tercinta.
Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku,
dan kasihilah duanya,
sebagai mana mereka mengasihiku diwaktu aku masih kecil.
No comments:
Post a Comment