"Rempeyek Kacang"
Ada seribu macam gila. Ada gila harta. Orang yang menghamba pada harta.
Ada gila perempuan. Atau orang Jawa bilang edan wedokan.
Yaitu orang yang sukanya main perempuan (nyuwun sewu lho).
Ada gila judi. Orang yang kerjanya hanya berjudi.
Gila kerja. Orang yang sangat menyukai kerja, hingga lupa waktu.
Dan ada lagi gila yang lain. Gila penyakitku.. Penyakit lama.
Edan, tapi tak sembarang edan.Edan rempeyek. Terutama rempeyek kacang.
Sore hari, setelah seharian bekerja.Dan ketika terasa lelah.
Itu saat paling tepat untuk menikmati teh ginasthel (legi, panas, kenthel),
dan ditemani kriuk-kriuknya rempeyek kacang. Nikmat banget.
Ritual sore hari yang sayang sekali dilewatkan.
Sampai-sampai keponakan tercinta tanpa diminta, selalu membawakan rempeyek untukku. Entah dimana saja ia berburu rempeyek.
Pagi tadi, Sabtu, libur kerja.
Setelah bersih-bersih, membuat teh, masak, dan lelah sekali.
Secangkir teh manis dan rempeyek kacang bungkus yang penghabisan.
Membuat aku berpikir. Apa tepat ini disebut edan rempeyek ?
Kalau edan, aku masih sadar bisa membuat batasan "cukup satu bungkus kecil"
rempeyek, menemani secangkir teh.
Ini hanya suatu bentuk "mat-matannya wong cilik" yang benar-benar nikmat.
Dan resep utama mat-matan yang paling nikmat adalah setelah kita lelah bekerja.
Cobalah !!!
-----------tjit----------
No comments:
Post a Comment