"Bila onta dan kambing nonton bareng Extravaganza"
Agak aneh memang, TV Sony 14 Inchi, sudah kuno,
tanpa remote control, tombol pencari canel yang mundur sudah tak berfungsi,
jadi kalau mau ganti canel, bisanya pencet-pencet maju terus.
Tapi yang merubung nonton……….wow.
Satu set kursi diruang tengah, tak cukup. Mesti narik beberapa kursi makan.
Biar para onta dan kambing bisa bareng-bareng menikmati tayangan Extravaganza.
Itu terjadi, karena tetangga sebelah, Jidahnya (mbah Putrinya)
penggemar berat Pildacil. Mungkin dalam hati Jidah berharap, ada cucunya
yang bisa berdakwah seperti para peserta Pildacil itu. Sebaliknya para cucu punya kegemaran yang berseberangan dengan sang Jidah, yaitu Extravaganza. Padahal kedua acara tersebut punya jam tayang yang sama. Maka berduyun-duyunlah para cucu, "Onta-Onta Padang Pasir" itu (ada Bargi, Rania, Riham, Fikar, Eva, Mia, Mail,
bahkan kadang-kadang dengan si kecil Ruaidah "Pipi Solekhah")
berhijrah ke Yu Tjitra, bergabung dengan "Kambing-Kambing Jawa"
buat nonton bareng Extravaganza.
TV 29 Inchi, buat Jidah tercinta di rumah.
Benar-benar para cucu yang dapat dibanggakan.
Di depan TV Yu Tjitra, di ruang tengah suasana tambah gayeng saja.
Boleh tertawa semaunya, dengan gaya sesukanya, mau njengking, mleding, monggo.
Tapi kata kunci harus tetap dipatuhi, yaitu "demokrasi".
Setiap iklan tak boleh semaunya ganti canel. Terutama yang duduk di dekat TV.
Tak ada ganti acara tanpa pesetujuan dari semua pemirsa.
Kalau ribut sendiri (biasanya Rania), bakalan kena semprot dari semuanya.
Dan bisa-bisa kena WO alias disuruh pulang.
Begitulah setiap acara Extravaganza.
Ternyata Onta Padang Pasir dan Kambing Jawa punya bahasa yang sama.
Dalam tertawa.
----------------tjit---------------
No comments:
Post a Comment