Sunday, January 27, 2008



"Dona Dona"

Mami, begitu kami (teman-teman putrinya) menyebutnya.
Seorang single parent dari dua gadis kecil, waktu itu.
Yang besar adalah teman sekolahku di SD dulu.
Elsye Riastuti namanya. Atau kami sering memanggilnya Ecek
Teman satu geng. Begitu kira-kira bila anak sekarang menyebutnya.
Kami sering belajar kelompok di rumahnya, di Suryohamijayan – Baluwarti.
Dengan alasan kenyamanan. Tentu saja karena Maminya, yang walaupun tanpa berkata apa-apa, tapi dari wajahnya kami merasa seolah-olah beliau berkata : "Monggo-monggo nak. Masuklah.Silahlan…….silahkan".
Kenyamanan yang seperti itu yang membuat kami kerasan dirumahnya.
Seperti kebanyakan anak-anak seusia kami dulu, dengan alasan belajar bersama,
tapi akhirnya ganti acara menjadi makan-makan bersama.
Makan apa saja yang wajar dimakan, dimasukkan kedalam mulut
lalu dikunyah dan ditelan. Kadang kita urunan, lalu membeli gandhos rangin. Dimakan anget-anget. Enak banget. Atau kalau lagi "kumat nggragase"
kita makan dondong yang dijepit pintu, atau dibanting ke lantai agar pecah,
lalu "dibrakoti" atau ditutul garam.
Dan yang paling seneng kalau mendapat suguhan dari tuan rumah tentunya.
Apalagi suguhannya rujak degan. Waaah…

Mami adalah inspirasi. Inspirasi pertama. Begitu menurutku.
Seringkali, ketika aku datang kerumahnya, Mami sedang duduk sendiri di kursi
menghadap Selatan, sambil memainkan harmonica. Ada Sabda Alam,
Lilin-Lilin Kecil, kadang Angin Mamiri, atau yang lainnya.
Pada waktu itu, aku mengira di hati Mami tak ada tempat singgah
buat yang namanya kesedihan. Dimataku kala itu,
mata seorang anak berumur 10 tahunan.
Dan harmonicanya, membuat aku terpesona. Sangat terpesona.

Ketika aku masuk SMP, inspirasi kedua datang. Sahabat dekatku, Marwini
si rambut panjang kepang dua, yang cerdas, cucu juragan gembukan di Madyotaman,
yang dilahirkan sebagai putri Sala dengan wajah secantik Amoy, ternyata pinter juga memainkan harmonica. Lagunya bagus-bagus.
Dan ternyata ayahnya, Pak Maryono, sangat jago main harmonica.
Hingga saat ini aku belum pernah mendengar atau melihat orang bermain harmonica sebagus Pak Maryono.

Dan inspirasi ketiga datang dari sebuah cerita bersambung
di harian Kompas, yang berjudul Astrid Dibajak.
Dimana diceriterakan dalam sebuah penerbangan yang dibajak
dan pesawat didaratkan di sebuah gunung bernama gunung Niigata di Jepang.
Para penumpang menjadi sandera. Termasuk Astrid.
Seorang gadis kecil yang membawa serta harmonicanya.
Didalam penyekapan, Astrid menyanyikan lagu Indonesia Raya
dengan harmonicanya, sebagai kode atau petunjuk
agar tempat penyekapan dapat diketemukan oleh para penyelamat.

Demikianlah, ketiga hal tersebut diatas membuatku "kemrejut",
kepingin segera dapat memainkan harmonica. Sebuah harmonica kecil,
seharga Rp.85,- yang kubeli dengan uangku sendiri, siang-siang bersepeda,
disebuah toko kecil di Gemblegan.Itu adalah harmonica pertama yang kumiliki.
Waktu itu aku masih awal-awal SMP.

Dan tadi malam, ketika harmonicaku menyanyikan Dona-Dona
yang di film Gie dinyanyikan oleh Sita RSD,
sepertinya sejarah akan berulang kembali.
Kini giliran si Onta sebelah rumah yang terinspirasi
oleh Dona-Dona harmonicaku.
Aku tak bisa membayangkan lagu gambus yang dicintainya.
dinyanyikan dengan harmonica.
Bakalan jungkir balik si Onta nyebul dan nyerot.
Melantunkan irama padang pasir.
He...heee....heeee

No comments: