Thursday, January 10, 2008

"Senja Hari"

Di ruang tengah.


Sore hari sepulang kantor, dengan keponakanku Arik, duduk-duduk, ngobrol "ngalor, ngidul, ngetan bali ngulon" (kok kayak tembang ya…..). Itu artinya ngomong-ngomong yang tak mutu, "ora genah jluntrunge", tak jelas ujung pangkalnya. Tapi cukup lumayan buat relaksasi isi kepala. Apalagi dia juga lelah sepanjang siang kuliah. Tak ada yang istimewa. Hingga kepulangan "si pembuat ribut", Sari, dari kampus. Obrolanpun semakin nglantur. Dia cerita kalau tadi, di kampus waktu senggang, dia sempat mikir-mikir, kok disore hari, waktu senja, sinar matahari berubah menjadi orange, beda sekali dengan ketika masih siang. Dia juga sempat ngobrol tentang itu dengan teman-temannya. Dan tak ada yang tahu jawabnya.



Tentu saja, kurang tepat bila pertanyaan semacam itu dilontarkan disekumpulan anak-anak Ekonomi. Di rumahpun tak ada yang cukup pengetahuannya untuk menjawab pertanyaan itu. Hingga berhari-hari persoalan sinar orange senja hari, masih menjadi ganjalan dikepalanya. Aku menyarankan membuka buku IPA anak SMA, dan Arik berjanji akan menanyakan pada teman-temannya, kalau-kalau diantara mereka ada yang tahu jawabnya. Aneh memang, skripsi yang tak kelar-kelar tidak menjadi beban. Sedangkan pertanyaan iseng semacan itu menjadi begitu menekan. Dasar anak yang aneh.


Hingga suatu sore menjelang maghrib. Fikar, tetangga sebelah, si onta itu, datang ke rumah dengan sarung dan baju kokonya yang rapi. Dia cowok perlente, seperti gambar person cart laki-laki di kartu tarot. Sudah menjadi kebiasaan, dia menunggu adzan maghrib sambil ngobrol bersama kita, diruang tengah. Dan kesempatan buat Sari untuk menanyakan simpanan pertanyaannya, pada Fikar yang anak IPA di Batik. Si onta yang kita anggap cemerlang itupun, agaknya kesulitan juga. Tapi tentu saja dia tak mau kalau kita anggap "bahlul". Makanya dia berjanji pula untuk mencari jawabnya. Adzan maghrib-pun berkumandang.


Begitulah, setiap senja, diruang tengah,adzan maghrib. Pertanyaan itu hanya berputar-putar, dari satu kepala ke kepala yang lain. Setiap kali Sari menagih janji, Fikar pun selalu menjawab belum ketemu jawabnya. "Nanti mbak, tak tanyakken guruku". Begitu setiap sore, dari Senin maghrib, hingga Senin maghrib berikutnya. Adzanpun berkumandang.
Fikar mohon diri untuk sholat. Di masjid Nur, masjid kesayanganya. Namun kali ini dia berjanji, dengan sepenuh hati, nanti sehabis sholat maghrib, pasti dia bisa berfikir jernih. Tunggu sepulang dari masjid.
Benar juga. Si onta tak ingkar janji. Dia datang, dengan wajah yang begitu sumringah. Apa katanya ? . "Wah mbak, ustadku yang satu ini pinter betul mbak". (Maksudnya ustad-nya yang di masjid Nur). Tadi aku bilang : "Aku mau tanya ustad". Dan kata ustad : "Ya silahkan Fikar, mau bertanya apa".
"Begini ustad, pertanyaan saya ini, sebenarnya pertanyaan tetangga saya, kepada saya. Tapi saya tak tahu jawabnya. Lalu saya berjanji, buat mencarikan jawabnya. Kemanapun itu. Tapi tak seorangpun yang dapat menjawab pertanyaan itu. Saya terlanjur janji ustad. Bukankah bagi seorang muslim janji adalah hutang". Lalu :"Yang singkat saja Fikar, apa pertanyaan itu ?". "Petanyaannya sederhana saja ustad, mengapa diwaktu sore, sinar matahari berwarna orange ?. Terima kasih".
Kata Fikar, ustad diam sejenak. Lalu dia berucap : "Astaghfirullah ….Fikar. Anda tak tahu jawabnya?". Fikar geleng kepala : "Sungguh ustad". Dan ustadpun sambil mengangkat kedua tangan keatas, berkata : "Katakan kepada tetangga anda. Subhannallah…………..itulah kebesaran Allah".
"Lalu jawabnya apa ustad", Tanya Fikar.
"Ya itu tadi. Itulah kebesaran Allah", jawab pak ustad.
" O…….. ya. Terima kasih ustad".
"Tak pikir, bener juga itu mbak, ustadku. Ngapain, kita susah-susah mikirin
berhari-hari. Pertanyaan sederhana, ya harusnya jawabnya juga sederhana".
Begitu Fikar menutup keterangannya.


Saya pikir, siapa yang "bahlul" sebenarnya. Yang ngasih pertanyaan, atau yang memberi jawaban. Yang jelas si onta perlente itu benar-benar briliyan
otaknya. Dengan karangan cerita yang mengatas namakan ustadnya, mampu
membuat kita, terutama Sari yang selalu ingin tahu, tertawa, konyol, dan tak mempersoalkan lagi sinar orange senja hari. Karena kami tunduk pada kebesaran Illahi. Hee…he…he..


Kalau hijrah,
bawa serta cerita kami.
Dari tetangga sebelah rumah :
satu tante - tiga keponakan

1 comment:

Anonymous said...

I love kuthasala.blogspot.com! Here I always find a lot of helpful information for myself. Thanks you for your work.
Webmaster of http://loveepicentre.com and http://movieszone.eu
Best regards