Thursday, January 10, 2008


Kyai Slamet

(Sebagai simbol dari doa/permohonan akan keselamatan)


Di Sala, bila kita jalan-jalan di alun-alun kidul, sering kali kita temui sekelompok kerbau yang sedang merumput, atau kadang-kadang sudah masuk di dalam pagar Sitinggil, dimana sekelompok kerbau itu sekarang dikandangkan. Orang Sala sudah faham betul dengan kerbau bule (albino) yang gemuk-gemuk itu, yang biasa disebut sebagai Kebo Kyai Slamet.


Disetiap malam tahun baru menurut penanggalan Jawa, yaitu setiap malam tanggal 1 Sura, Kraton Kasunanan selalu mengadakan acara kirab pusaka.
Tepat jam duabelas malam (24.00 WIB), pergantian tahun Jawa, seluruh putra, sentana, abdi, melakukan olah tirakat, dengan kirab berjalan kaki mengelilingi kraton, beserta pusaka-pusaka yang ada. Dan tak ketingalan pula Kyai Slamet. Pada acara ini Kyai Slamet, mempunyai peran penting, yaitu sebagai cucuk lampah, berada di barisan paling depan, dalam arak-arakan itu.

Acara ini dimaksudkan sebagai suatu bentuk permohonan, doa, dan diserati dengan laku tirakat, agar di tahun yang akan datang Allah SWT selalu memberikan "keselamatan" bagi kita semua. Bukankah orang Jawa selalu mewujukan doa-doanya dengan simbol-simbol yang nyata ?.
Kebo Kyai Slamet atau sering disebut dengan Kyai Slamet saja, adalah kerbau bule milik Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (jaman dulu), yang diberi nama Kyai Slamet. Jadi kerbau-karbau bule yang sekarang ada, yang seringkali kita jumpai di alun-alun kidul itu adalah keturunan dari kebo (kerbau) bule yang bernama Kyai Slamet. Jadi bukan kerbau milik Kyai Slamet, seperti perkiraan sebagian orang yang tak tahu.

------- tjit.-------


No comments: