Monday, November 17, 2008

Misteri Painem

Seorang gadis cantik muda belia, berkulit putih bersih, bermata indah bola ping pong, dan tinggi semampai bak kuda teji. Secantik bidadari turun ke bumi bersama pelangi. Tak dapat dipungkiri keberedaannya selalu mengundang perhatian, bahkan menjadi pusat pandang setiap orang. Sulit dikatakan mana yang lebih indah dari matanya, hidungnya, bibirnya, lesung pipitnya atau alis matanya. Tuhan maha pengasih dan amat sayang pada umatnya yang satu ini. Ia mendapatkan sosok tubuh dengan kecantikan wajah yang amat didambakan oleh hampir semua wanita. Painem. Ya Painem namanya. Wanita muda berasal dari desa di sebelah selatan kota Sala. Gadis desa.


Seperti halnya bayi-bayi perempuan yang lahir di desanya. Oleh ayahnya ia mendapat jatah nama Painem. Setelah Suyem, dan Kainem untuk nama kakak-kakak perempuannya. Sederhana, mudah diingat karena hanya satu kata. Tapi aku tak pernah mendapatkan arti dari nama yang hanya satu kata itu. Di kamus bahasa Jawa manapun. Aku tak habis pikir. Untuk suatu anugerah terbesar dari sebuah kehidupan, seorang ayah hanya asal saja memberinya tanda, sebuah nama tanpa makna. Bukankah bagi orang Jawa "asma minangka japa" atau nama sebagai do'a. Harapan. Lalu apa yang diharapkan sang ayah bagi kehidupan anaknya, si Painem kelak. Do'a apa yang ia panjatkan sebagai rasa syukur atas anugerah itu ? Aku tak habis pikir.

Bukankah banyak nama-nama sederhana yang punya makna dan tentunya lebih cantik kedengarannya ? Misalnya Putri atau Pawestri. Bukankah ini sama sederhananya dengan nama Painem ?. Pertanyaan yang lama bertahta di kepalaku ini, suatu saat tak tertahankan dan meloncat keluar dihadapan bapakku. Aku kena semprot. Dan tanpa jeda uraian yang panjang lebar masuk ketelingaku. Meresap dalam hati. Sampai kini. Dahulu dalam masyarakat pedesaan Jawa, wanita adalah pengelola hasil jerih payah kerja para pria. Seorang isteri adalah bendahara bagi suami. Sebagai penyimpan dan pengatur keluar-masuknya uang. Diibaratkan sebagai "pedaringan". Kotak tempat menyimpan beras. Pedaringan tak boleh bocor, karena beras dapat tercecer berjatuhan. Harus punya tutup yang rapat, tidak terbuka. Bila terbuka akan memudahkan kita mengambilnya, tak henti-henti, tanpa pertimbangan, sehingga persediaan beras mungkin akan habis lebih cepat. Demikianlah, ternyata orang tua memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama Pinem, Suyem, Kainem atau Katijem bukan tanpa alasan. Nama-nama tersebut, yang biasanya diakhiri dengan "aksara mingkem" (huruf mati), selalu diucapkan dengan akhir "mingkem" (menutup mulut). Nem, kem, jem, yem. Semuanya menutup. Rapat. Artinya tidak terbuka dan tidak bolong atau bocor. Karena wanita diibaratkan sebagai pedaringan bagi keluarga, maka diharapkan ia menjadi pedaringan yang tertutup dan tidak bocor atau bolong. Artinya ketika seorang bayi perempuan lahir, maka karena kelak ia harus menjadi pengelola harta keluarganya, maka ia harus keket, penuh perhitungan dan tidak boros. Kini nama Painem menjadi nama yang indah di telingaku. Indah karena maknanya.

No comments: