Bukan bedah buku. Namun bedah loakan. Itu acaraku beberapa waktu lalu. Dan bukan untuk mengisi waktu luang, melainkan benar-benar meluangkan waktu. Loakan merupakan arena peburuan yang sangat menyenangkan, buat mencari buku-buku lama yang sudah tak diterbitkan lagi. Bisa berjam-jam tak terasa, meski membaca sambil berdiri. Membaca tak ada tamatnya. Dari satu buku, ke buku yang lain. Dari satu pedagang, ke pedagang yang lain. Adakalanya, pedagang yang sejak pagi belum melepas satu bukupun, jengkel melihat kita hanya membaca dan mengacak-acak tumpukan buku-bukunya, yang sebelumnya memang telah acak-acakan. Dan sangatlah celaka bila kita memang tidak punya tujuan khusus untuk mencari buku tertentu. Alias hanya nunut baca-baca. Pada akhirnya si pedagang tentu akan bertanya "pados buku nopo to mbaaak ?". Meski halus, tapi ada nada penekanan pada akhir sapaannya. Ini adalah alarm bahwa kita harus segera pergi atau memutuskan untuk membeli. Dan biasanya, entah belahan otakku yang sebelah mana, yang secepat kilat merespon dan menjawab asal-asalan. Nama sebuah judul buku langka atau tepatnya tak pernah ada, dan meloncat keluar lewat mulutku : Berteduh Di Bawah Payung Kerajaan. Biasanya mereka menanyakan nama pengarangnya. Lebih cepat lagi aku menjawab : Tjitro Dento. Mereka nampak seperti mengingat-ingat, kalau-kalau nama itu pernah mampir di kepalanya. Dan aku yakin, pastilah tidak. Karena nama itu adalah nama Kakekku almarhum……ha…ha. Seingatku ada beberapa judul fiktif, beserta nama pengarangnya, yang bisa saja aku ambil dari nama teman, bekas pacar, paman atau pak De ku.Dengan cara seperti itu, kita akan pergi dengan terhormat, saling mengucap salam perpisahan paling hangat, disertai pengharapan dari si penjual buku : besuk-besuk kemari lagi ya …. Dan aku pun menjawab : laris ya bu….. Aku pergi, dengan damai dihati.
Namun lain untuk kali ini. Aku telah menggenggam nama satu judul buku. Buku lama yang apik, yang pernah kupunya. Menceriterakan sejarah kelam kehidupan Kraton Surakarta Hadiningrat, di jaman PB X, dan lahirnya sebuah generasi baru. Kisah tentang kehidupan para Pengeran dengan skandal cintanya, para abdi dalem yang begitu setia pada bendoronya, tunduk pada tata kehidupan kraton yang mengikatnya. Dan Revolusi telah menjungkir-balikkannya dengan tata kehidupan baru, dengan generasi baru pula. Menarik sekali. Kraton Surakarta, dalem Suryobratan dan Kampung Kedhunglumbu, adalah asal-muasal benih dan tempat persemaian kisah cinta haram yang nyaris terselamatkan oleh kesetian. Kesetiaan yang sangat dijunjung tinggi pada jaman itu. Bagi seorang abdi, kesetiaan adalah harga mati. "Generasi Yang Hilang", karya Bp. Suparto Brata. Tak kalah cantik dari Teyi, si Gadis Tangsi. Atau Kerajaan Raminem, dan karya-karya yang terbit setelahnya. Generasi Yang Hilang adalah perkenalanku dengan tulisan Bp. Suparto Brata. Meski tak banyak membaca karya-karyanya, namun untuk selanjutnya, nama itu menjadi jaminan bagiku. Jempol banget.
Untung saja, menjelang hujan, telah aku temukan buku itu. Kasihan sekali. Buku bagus tercampakkan di loakan. Tapi di sisi lain aku bersyukur, karena masih menemukannya. Dan selanjutnya, perlu diingat bahwa : jangan ijinkan buku cantik melangkah keluar rumah. Karena tak bakalan kembali pulang. Kalau tak tercampakkan di loakan, jadi bungkus kacang, tentu berbaris rapi di almari buku orang. Kalau sudah demikian kitapun akan menyesal berkepanjangan.
No comments:
Post a Comment