Friday, March 28, 2008

Iki Yu Tjitra arep crito, ning mung sak critan wae.

Kraton Sala
(Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat)




Ketika kami kelas II SD, sekolah masuk siang. Ini saat yang pertama, aku berani masuk Kraton, hingga ke Keputren, tempat tinggal para isteri dan putri-putri Sinuwun. Bersama teman-teman tentunya, pagi hari sebelum masuk sekolah . Dan alasan paling layak, adalah menjemput Ti Is. Salah seorang Putri Sinuwun PB XII, teman sekelasku. Dengan demikian, mbah Sosro tak perlu mengantarkannya ke sekolah karena kami telah menemani. Sejak itu kami punya hobi baru.

Masuk Kraton, suatu kesenangan tersendiri buat kami, anak-anak. Seperti berwisata ke suatu tempat jaman lampau. Meski tua karena umurnya, dan usang karena kurang terawat, namun kemegahannya dan sisa-sisa keindahannya masih lumayan untuk dinikmati. Patung-patung putih manusia berjubah dan bersayap dari Eropa, kolam dengan air mancur yang tak mancur lagi airnya, bangunan-bangunan yang berderet-deret, kosong, sunyi tak berpenghuni. Pohon-pohon sawo manila yang telah tua, para penjaga dan abdi dalem yang tak kalah pula tuanya, semuanya serba tua.

Sawo Manila
Masuk Kraton, melalui kori Sri Manganti (pintu paling depan, yang berjajar tiga) sepatu harus dilepas, tak boleh lari-lari, berbicara pelan-pelan, tak boleh nunjuk sana nunjuk sini pakai telunjuk, yang kata kakakku, nanti jarinya bisa punter (dulu, aku mempercayainya. Tapi oleh mbah putri-ku diluruskan : jangankan di Kraton, di rumah siapapun tak boleh begitu). Bagiku tak masalah. Tanpa sepatu, itu artinya kenyamanan, karena kita akan berjalan diatas pasir yang lembut, tebal dan kering. Seperti di pantai. Kaki tak bakalan menjadi kotor karenanya. Pohon-pohon sawo manila, bahkan sangat rajin menjatuhkan buah-buahnya yang telah masak, diatas pasir-pasir yang lembut itu, dalam kedaan tetap mulus, tak terkelupas sedikitpun. Tinggal di lap, bisa langsung dimakan. Kalau lagi musim permainan mbar suru, kita kumpulkan keciknya. Dan daun yang banyak berserakan dibawah, kita pilih yang termulus, sebagai surunya.
Kolam Bandengan
Diluar acara jemput-menjemput diatas, kita kadang dolan ke Kraton. Ti Is sering mengajak kami masuk-masuk ke tempat yang tak layak dikunjungi. Ke Bandengan misalnya. Kolam renang yang telah tak berfungsi. Airnya telah berubah hijau, berlumut tebal. Kotor, rusak. Tak ada mahluk hidup disana, kecuali ikan cethul dan jentik-jentik nyamuk di kolam kotor itu, beberapa burung kecil yang numpang lewat, dan tentunya kami berempat, anak-anak nekat. Betapa tidak, tanah menuju kolam itu, akan amblas kalau diinjak. Menakutkan. Tapi kami ingin. Dan kalau ketahuan penjaga, meskipun tak dimarahi, tentu kami digiring balik, dan tak akan pernah melihat kolam yang bernama Bandengan. Aku bayangkan kalau tempat itu diberihkan, dipugar, dan difungsikan, wah…. indah sekali. Atau dibuka buat wisatawan, fulus bakalan mengalir deras ke kas Kraton. (Wah ketahuan, sejak kecil aku memang mata duitan).
Dan sekarang kabarnya Bandengan telah dipugar. Bak putri habis mandi dan berdandan cantik sekali.

Biyung tulung…….
Ti Is kadang berceritera yang serem-serem. Tempat-tempat yang angker. Seperti di suatu tempat, yang hanya ditunjukkan saja arahnya, dan kami benar-benar tak berani mendekat. Jangankan mendekat. Menoleh ke arah tempat itu saja kami tak berani. Serem sekali. Katanya, dari arah tempat itu, sering terdengar suara anak yang melolong panjang, memohon-mohon pertolongan pada biyungnya (ibunya), dengan sangat memelas "Biyuuuung …….tuluuung……..". (Ibuuuu…toloooooooong)
"Biyuuuung ……………tuluuuuuuuung……….. ". Aku merinding mendengar cerita itu. Dan malamnya aku tak bisa tidur. Rasanya aku seperti menjadi biyung yang dipanggil-panggil anak itu. Kasihan tapi sekaligus sangat ketakutan. Mungkin di tempat itulah setan-setan membuang anak haramnya.

Gadis kecil Elsye disekap di dalam almari.
(aku sebagai saksi kunci)

Suatu hari kami belajar bersama, kali ini giliran di tempat Ti Is. Di Kraton. Kami tidak dirumahnya, di Keputren, namun ditempatkan disebuah ruangan, entah apa namanya, tapi sepertinya memang diperuntukkan untuk proses belajar-mengajar. Mungkin untuk les. Ada beberapa meja - kursi, papan tulis, dan sebuah almari besar. Sebuah ruangan yang terlalu luas buat tiga bocah sekecil kami.

Nah, belum berapa lama kami belajar, temanku Elsye sudah kebelet pipis. Bingung. Pulang ke rumah, atau ke rumah Ti Is, sama saja. Sama jauhnya. Akhirnya ditahan-tahan. Tapi tak tahan juga. Elsye membungkuk-bungkuk mmemegangi perutnya menahan pipis. Kasihan. Keadaan telah begitu mendesak. Aku kebingungan. Ti Is jengkel. Dan siapa sangka putri Kraton yang begitu lemah lembut, kini telah berubah. Ditariknya Elsye, cepat-cepat, bingga persis di depan almari besar itu. Pintu sebelah kanan almari sedikit dibuka, dan tubuh kecil Elsye, didorong masuk ke dalam almari. Plung...... Elsye menjerit-jerit ketakutan. Aku ketakutan juga.

Aku yakin Ti Is telah kerasukan setan penjaga ruangan itu. Tubuhnya disandarkan untuk mengganjal pintu almari dimana tadi sahabatku Elsye dipaksa masuk. Aku dorong Ti Is agar pintu dapat dibuka. Aku tak kuat. Karena tubuhnya lebih besar daripada tubuhku. Ditambah lagi kekuatan dari setan yang merasuki tubuhnya. Aku tetap berusaha terus mendorongnya, lebih keras, kali ini dengan perasaan permusuhan. Musuh yang harus aku kalahkan demi Elsye. Mulutku hanya bisa ngomomg: "Ti…..Ti….Ti….". Dan Ti Is tetap tak beranjak, tubuhnya tetap menyandar di pintu almari, menghalangiku, sambil tersenyum.

Ya tersenyum. Dia kira senyumnya masih semanis biasanya. Padahal tidak. Aku semakin kalut karena Elsye sudah tak ada lagi suaranya.. Kemudian dengan gerakan yang super halus, Ti Is membuka sedikit pintu almari itu. Meskipun hanya sedikit, tapi mengapa Elsye tak menerobos keluar. Itu artinya……. Aku tak berani membayangkan apa yang telah terjadi pada teman kecilku di dalam almari itu. Aku gemetar, karena ketakutan.

Aku justru menjauh, ketika Ti Is melambaikan tangannya, memanggilku. Aku bakalan menjadi yang ke dua, setelah Elsye. Aku semakin menjauh. Aku menjadi lebih yakin, sahabatku ini, Gusti Raden Ajeng Koes Ismaniyah, telah kesurupan setan penjaga ruangan itu. Ya, aku yakin itu. Kraton memang angker. Tangannya dilambaikan lagi, sambil memanggil namaku dengan jelas : " Tjitra. Tjitra…..mriki !" (Tjitra. Tjitra……kesini !). Senyumnya lebih lebar. Tertawa. Aku semakin ngeri mendengar tawanya. Itu pasti tawa setan yang merasukinya. Aku benar-benar tak tahan berada dalam kondisi yang begitu menekan seperti saat itu. Tapi bagaimana dengan Elsye, yang pastinya telah lemas disekap beberapa lama di dalam almari. Habis riwayat.

Aku akan lari saja keluar, mencari pertolongan. Tapi Ti Is tertawa semakin lebar, semakin mengerikan, dan pintu almari dibuka lebih lebar, selebar tawanya. Dari kejauhan aku bisa melihat dalamnya. Dan tak ada Elsye. Yang ada hanya lorong panjang. Ti Is terpingkal-pingkal. Aku mendekat, dan melongok lorong itu. Tak kutemukan sahabatku, hanya suara cepak-cepuk dan gebyar-gebyurnya air. Aku masuki almari tanpa disuruh, atau dipaksa, apalagi didorong seperti Elsye tadi. Dan kutemukan sahabat kecilku, yang aku kira telah mati lemas, sedang bermain-main air kegirangan. Ternyata lorong di balik almari itu adalah jalan masuk menuju ke toilet. Dan dari lorong itu pula, kita dapat menemukan pintu menuju jalan, di luar.

Ti Is puas sekali hatinya, telah berhasil membuat kami ketakutan, setakut-takutnya. Aku butuh beberapa waktu, untuk mengembalikan irama detak jantungku yang tadi sempat bertalu-talu hebat. Dan akhirnya bertiga kami tertawa tiada henti, tak ada permusuhan, tak ada sakit hati. Dan ketegangan itu kini telah terurai,…… pergi.


Salamku yang termanis untuk Elsye dan Ti Is.


--------- tjit --------

8 comments:

Anonymous said...

jadi pengen masuk ke kraton solo...ntar kalo aku ke solo..mo ke tempat yu tjitra ah trus minta anterin ke kraton solo hehehhe

Nic-Nic said...

Mbak...

dulu aku pernah training sebagai guide di kraton, sebulan lah. waktu itu ticketingnya masih di sitihinggil dekat klewer itu.

kueesel tenan bolak-balik sitihinggil -kraton. panas.

Kutha Sala said...

buat Bintang....OK Boss...siap.

Kutha Sala said...

Buat Nic-Nic, kapan kluyuran ke Kraton lagi ya Nic....

Kristina Dian Safitry said...

Ceritanya kok serem serem yach. Btw, kepengin mampir keraton nig gw, siapa yg mau jadi guidenya?he..he...

kemana aja nih, kok gak pernah mampir rumahku lagi?mampir yach?ditunggu kedatangannya. dah tak siapin kopi lho,ha..ha...

Kutha Sala said...

Makasih mbak Dian, nanti aku yang jadi guidenya wis.....
Eh...kopi ada jodohnya lho....nyam-nyam-nyam...nikmat

Ti Ah said...

He..he..he..lucu jg ceritanya yu Tjitra neh...
Mbakyu... itu tempat belajar bareng sama Ti Is namanya Kamar Nyonyah.
Yu Tjitra daleme pundi tho?

Kutha Sala said...

Ooooalah ... ini Ti Ah adiknya Ti Is to !!. Ti, saya Tjitraningrum temennya Ti Is di Pamardi Putri dulu. Saya masih tinggal di Sala... Kedunglumbu. Katuran pinarak Ti. Sebenarnya saya rindu dolan-dolan ke Kraton.... sampai blusuk-blusuk seperti dulu. Tapi sepertinya sekarang tidak mungkin ya..... Ti Ah sekarang lenggahnya dimana ? Matur sembah nuwun ya Ti, lain kali mampir-mampir lagi ke sini. Sebulan sekali saya masih ketemu Ti Is kok, nanti saya ceritakan pertemuan ini. Nuwun...nuwun....nuwun...